Selasa, 17 September 2019

Kerajaan Sriwijaya



Sejarah berdirinya Nusantara tentu tak lepas dari pengorbanan para pahlawan. Kecuali pengorbanan para pahlawan, tentunya kerajaan-kerajaan yang ada di Indonesia juga mempunyai dampak besar kepada sejarah Indonesia. Salah satu kerajaan besar yang ada di Indonesia merupakan kerajaan Sriwijaya.





Kerajaan Sriwijaya adalah kerajaan Melayu yang berada di pulau Sumatera serta mempunyai dampak besar kepada Nusantara. Nama kerajaan ini berasal dari Bahasa Sansekerta, sri artinya bersinar dan wijaya yang mempunyai arti kemenangan. Sehingga arti nama kerajaan ini berarti kemenangan yang bersinar.

Tempat kekuasaan Kerajaan Sriwijaya yang mencakup Kamboja, Thailand, Semenanjung Malaya, pun sampai Pulau Jawa ini membikin nama Kerajaan Sriwijaya diketahui di segala Nusantara. Tak cuma dari Nusantara saja, akan tapi juga kerajaan ini diketahui sampai ke mancanegara.

Hal ini diterangkan dengan adanya pelbagai sumber yang menceritakan adanya kerajaan di Sumatera ini. Ada berita yang mengatakan bahwa para pedagang dari Arab dan Cina pernah berdagang di Sriwijaya. Meskipun berdasarkan isu dari India, kerajaan di India pernah berprofesi sama dengan kerajaan Sriwijaya.

Masa Kejayaan Kerajaan Sriwijaya
Kerajaan Sriwijaya


Sebuah kerajaan yang besar tentunya mempunyai sejarah jaya dan ambruknya yang tentu akan senantiasa diingat oleh masyarakat Indonesia. Sejarah masa kejayaan kerajaan Sriwijaya diawali sekitar abad ke 9 sampai abad ke 10 di mana ketika itu kerajaan ini sukses merajai trek perdagangan maritim Asia Tenggara.

Tak cuma perdagangan maritim saja, akan tapi juga pelbagai kerajaan di Asia Tenggara sukses diatur oleh Sriwijaya. Kerajaan di Thailand, Kamboja, Filipina, Vietnam, sampai Sumatera dan Jawa sukses diatur Sriwijaya.

  Kerajaan Samudra Pasai
Masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya menjadi pengendali rute perdagangan lokal yang mana waktu itu segala kapal yang via akan dikenakan bea cukai. Mereka juga sukses mengumpulkan kekayaan mereka dari gudang perdagangan serta via jasa pelabuhan.

Sayangnya, masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya mesti usai sekitar tahun 1007 dan 1023 Masehi. Berawal saat Raja Rajendra Chola, seorang penguasa Kerajaan Cholamandala sukses menyerang Sriwijaya dan sukses merebut bandar-bandar kota Sriwijaya.

Terjadinya penyerangan ini sebab kedua kerajaan ini saling berkompetisi pada bidang pelayaran serta perdagangan. Kerajaan Cholamandala bukan berniat untuk menjajah, akan tapi berkeinginan meruntuhkan armada kerajaan. Sehingga membikin keadaan ekonomi pada ketika itu melemah serta berkurangnya pedagang.



Tak cuma itu, energi militer kerajaan juga melemah dan membikin prajurit Sriwijaya melepaskan diri dari kerajaan. Sampai, masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya usai sekitar abad ke-13.

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya
Kerajaan Sriwijaya
Sebagai kerajaan yang pernah jaya di Nusantara, tentunya peninggalan kerajaan Sriwijaya tersebar di segala tempat kekuasaan mereka. Salah satu ragam peninggalan kerajaan Sriwijaya yang masih ada sampai ketika ini merupakan berupa prasasti. Berikut ini adalah prasasti peninggalan kerajaan Sriwijaya.

1. Prasasti Kota Kapur
Prasasti Kota Kapur adalah prasasti peninggalan kerajaan Sriwijaya yang berada di komponen Barat Pulau Bangka. Bahasa yang ditulis pada prasasti ini memakai bahasa Melayu Kuno serta memakai aksara Pallawa. Prasasti ini ditemukan sekitar tahun 1892 bulan Desember.

Orang yang sukses menemukan prasasti ini merupakan J.K. van der Meulen. Prasasti ini berisi perihal kutukan bagi siapa saja yang menyanggah instruksi serta kekuasaan kerajaan akan terkena kutukan.



2. Prasasti Kedukan Bukit
Seseorang bernama Batenburg menemukan sebuah batu tulis yang berada di Kampung Kedukan Bukit, Kelurahan 35 Ilir pada 29 November 1920 Masehi. Ukuran dari prasasti ini merupakan sekitar 45 x 80 centimeter serta ditulis memakai aksara Pallawa dan bahasa Melayu Kuno.

  Kerajaan Mataram Islam
Prasasti ini berisi perihal seorang utusan kerajaan yang bernama Dapunta Hyang yang melaksanakan perjalanan suci atau sidhayarta dengan memakai perahu. Dengan diiringi 2000 pasukan, perjalanannya membuahkan hasil. Dikala ini, prasasti Kedukan Bukit disimpan di Museum Nasional Indonesia.

3. Prasasti Telaga Batu
Prasasti ini ditemukan di sekitar kolam Telaga Biru, Kelurahan 3 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II, Palembang. Isi dari prasasti ini merupakan mengenai kutukan bagi mereka yang bertindak jahat di Sriwijaya. Eksistensi prasasti ini sama seperti prasasti Kedukan Bukit, adalah disimpan di Museum Nasional Indonesia.

4. Prasasti Talang Tuwo
Residen Palembang, adalah Louis Constant Westenenk menemukan prasasti pada 17 November 1920. Prasasti ini ditemukan di kaki Bukit Seguntang di sekitar tepian utara Sungai Musi. Isi dari prasasti ini berisi doa-doa dedikasi dan menampakkan berkembangnya agama Buddha di Sriwijaya.

Aliran yang diaplikasikan di Sriwijaya merupakan aliran Mahayana yang diterangkan dengan kata-kata dari Buddha Mahayana seperti bodhicitta, vajrasarira, dan lain-lain.

5. Prasasti Ligor
Prasasti yang ditemukan di Thailand Selatan ini mempunyai dua sisi, adalah sisi A dan sisi B. Pada sisi A membeberkan perihal gagahnya raja Sriwijaya. Dalam prasasti hal yang demikian ditulis bahwa raja Sriwijaya adalah raja dari seluruh raja dunia yang telah mendirikan Trisamaya Caiya bagi Kajara.

Meskipun untuk sisi B atau yang disebut prasasti ligor B berisi mengenai pemberian gelar Visnu Sesawarimadawimathana. Gelar hal yang demikian diberi terhadap Sri Maharaja yang mana berasal dari keluarga Sailendravamasa.

6. Prasasti Palas Pasemah
Prasasti Palas Pasemah adalah prasasti yang sukses ditemukan di desa Palas Pasemah, Lampung Selatan. Bahasa yang diaplikasikan pada prasasti ini memakai bahasa Melayu Kuno dengan aksara Pallawa serta tertata atas 13 baris kalimat.

Isi dari prasasti ini berisi perihal kutukan kepada orang yang tak patuh pada kekuasaan Sriwijaya. Diperkirakan, prasasti ini berasal dari abad ke-7 Masehi. Konon, prasasti ini ditemukan di sebuah pinggiran rawa desa.

7. Prasasti Karang Daya
Kontrolir L.M. Berkhout menemukan prasasti Karang Daya pada tahun 1904 di sekitar tepian Batang Merangin, Jambi. Isi dari prasasti Karang Daya juga kurang lebih hampir sama dengan prasasti di nilai sebelumnya, adalah mengenai kutukan bagi mereka yang tak patuh kepada Sriwijaya.

Artikel ini adalah persembahan dari Sewa Kipas Jogja

Tidak ada komentar:

Posting Komentar